4 May 2020, 05:32

HARDIKNAS, RAMADHAN DAN COVID-19

WhatsApp Image 2020-05-02 at 20.31.01Oleh Salapudin Nasya
(Kepala SMPIT Buahati Islamic School 2 Karawang)

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap tanggal 2 Mei setiap tahunnya, bertepatan dengan hari kelahiran Bapak Pendidikan, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara.

Semboyan Ki Hajar Dewantara yang sangat akrab di telinga kita ialah “ing ngrasa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” yang artinya di depan menjadi teladan, di tengah membangun kemauan/inisiatif, dan di belakang mendukung.

Semboyan tersebut mencerminkan pendidikan itu sendiri. Begitulah semestinya, baik pendidik maupun peserta didik atau bahkan siapa pun. Menurut Ki Hadjar, Jadikan setiap orang sebagai guru dan jadikan rumah sebagai sekolah. Maka, dengan peringatan Hardiknas setiap tahunnya, kita diingatkan sosok yang menginspirasi tersebut khususnya tahun ini.

Hardiknas Tahun 2020 sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya ada kegiatan upacara bendera yang dilaksanakan di kantor instansi pemerintah pusat dan daerah serta satuan pendidikan, namun kali ini melalui edaran Kemdikbud Nomor 42518/MPK.A/TU/2020 tentang Pedoman Peringatan Hari Pendidikan Nasional membatasi semua itu demi mencegah penyebaran Covid-19.

Covid-19 yang dinyatakan Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi ini, telah melumpuhkan banyak sektor kehidupan, termasuk sektor pendidikan, sekalipun beberapa sektor justru diuntungkan dan berada di puncak, seperti sektor kesehatan dan pangan, dan tidak sedikit juga yang memanfaatkan situasi ini.

Warga terdampak pun bukan hanya dari segi tertularnya covid-19 itu sendiri tetapi dampak sosial ekonomi dan lainnya juga menjadi persoalan baru. Namun, di balik semua itu, Covid-19 telah mengajarkan banyak hal. Selain dari segi perilaku hidup bersih dan sehat dengan rajin mencuci tangan, covid-19 telah mengajarkan pada aspek lain.

Jika dilihat sisi positifnya, misalnya dengan adanya himbauan tetap di rumah (Stay at Home/Work From Home/Learning From Home) Covid-19 memaksa kita agar menjadikan rumah juga sebagai pusat belajar (learning center) bagi peserta didik.

Ayah sebagai kepala keluarga sekaligus kepala sekolah dan Ibu sebagai guru, serta perlengkapan rumah sebagai media belajar, yang semua itu bisa tercipta dalam suasana belajar di rumah. Sudah tentu, selain guru memegang peran penting melalui pembelajaran daring (online), anggota keluarga menjadi pribadi-pribadi yang tidak kalah penting.

Di samping itu, covid-19 telah menyadarkan masyarakat modern akan pentingnya peran keluarga dalam suksesnya pendidikan. Karena hakikatnya, pendidikan pertama dan utama ialah pada keluarga, dan rumah adalah tempat terbaik dalam menjamin berlangsungnya pendidikan.

Jika selama ini orangtua mencari sekolah yang aman, nyaman, ramah anak, karena menganggap sekolah adalah rumah kedua bagi pendidikan putra-putrinya. Tentu, jika demikian, maka rumah pertama dan utamanya adalah keluarga, sehingga menjadikan rumah itu seperti surga mudah diwujudkan oleh semua. Maka, ungkapan ‘Rumahku Surgaku’ itu sudah tepat.

Rumah inilah yang didambakan oleh banyak orang atau pasangan keluarga. Jika banyak pasangan keluarga yang menginginkan rumah yang nyaman atau rumah idaman adalah hal yang wajar, agar hidupnya tenang karena memiliki tempat tinggal.

Oleh karenanya, Islam sangat memahami kebutuhan mendasar bagi manusia tersebut. Maka, kita temukan ayat-ayat motivasi ilahiyah terkait dengan rumah, seperti dalam surah At Tahrim (66) ayat 11 ketika istri Fir’aun berdoa, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga.”

Demikian juga kita temukan hadits Nabi berkaitan dengan rumah, di antaranya hadits yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim, “Siapa yang membangun masjid, maka Allah akan bangunkan rumah di surga”, Demikian pula diriwayatkan Muslim, “Jangan jadikan rumahmu seperti kuburan”, At Tirmidzi meriwayatkan, “Orang yang tidak ada hafalan sama sekali dalam dadanya seperti rumah yang rusak” dan sebagainya. Lalu siapa yang tidak menginginkan rumah? Semua orang pasti menginginkannya.

Terlebih, ada kabar gembira yang disampaikan Rasulullah melalui sabdanya yang diriwayatkan Al Bukhori, An Nasai dan Ahmad, “Siapa yang menghadapi wabah lalu dia bersabar dengan tinggal di dalam rumahnya seraya bersabar dan ikhlas sedangkan dia mengetahui tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah ditetapkan Allah kepadanya, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mati syahid.”

Maka, pada saat diminta berada di rumah, menghindari kerumunan, untuk mencegah penyebaran covid-19, harus kita syukuri, karena banyak yang menginginkan bisa tinggal di rumah tetapi belum bisa. Inilah pendidikan yang sangat berharga.

Ramadhan di Tengah Pandemi

Hardiknas kali ini juga bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, di mana Ramadhan disebut sebagai bulan tarbiyah atau bulan pendidikan, terutama pendidikan ruhiyah (spiritual) selain memiliki hikmah jasadiyah (badan) dan aqliyah (pengetahuan). Meskipun Ramadhan kali ini dihimbau tetap ibadah di rumah tanpa mengurangi makna ibadah Ramadhan, namun ada hal yang menarik dari Ramadhan kali ini.

Bahwa Ramadhan 1441 H kali ini merupakan Ramadhan dengan jumlah imam tarawih terbanyak, jumlah masjid terbanyak tetapi dengan jumlah makmum yang sedikit karena diikuti oleh anggota keluarga inti. Rumah-rumah kaum muslimin saat ini menjadi masjid-masjid, menggantikan sementara masjid yang sesungguhnya.

Himbauan untuk beribadah di rumah, ternyata tidak berarti selesai masalah. Tantangan bagi para suami, para ayah adalah menjadi imam shalat fardlu dan tarawih. Ada yang siap secara mental, ada yang maju mundur karena tidak terbiasa, malu dengan putranya yang hafalannya jauh melampauinya.

Inilah tantangan dan peluang bagi para suami atau ayah untuk belajar menjadi imam tarawih, yang selama ini barangkali belum pernah atau jarang. Ramadhan kali ini mendidik atau memberi kesempatan kepada para ayah atau suami sebagai kepala keluarga untuk menjadi imam, baik imam shalat maupun imam keluarga. Karena sejatinya kepala keluarga adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.

Seolah-olah, Rasulullah saw sedang mengajarkan kepada kita, bahwa setiap tempat di bumi ini bisa dijadikan masjid atau tempat sujud kecuali kuburan dan kamar mandi. Demikian kita dapatkan dalam sabda beliau. Dan seolah-olah Nabi sedang mengajarkan kepada kita wahai para suami, wahai para ayah, dijadikannya imam itu supaya diikuti, juga sabda beliau bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjwabannya.

Kolaborasi momen ini sangat bagus dalam hardiknas, bahwa pendidikan selain mencerdaskan kehidupan bangsa juga mewujudkan manusia yang beriman dan bertaqwa. Maka peringatan hari pendidikan tahun ini di antara Ramadhan dan covid-19 benar-benar menjadi Hari Pendidikan Nasional untuk semua kalangan dan semua usia, karena bertepatan dengan bulan Ramadhan dan di tengah situasi pandemi Covid-19. Mari kita manfaatkan !

Selamat Hari Pendidikan Nasional !

Karawang, 2 Mei 2020

Topik Berita :