12 October 2021, 01:52

TANTANGAN KOMPETENSI GURU DI MASA PANDEMI

WhatsApp Image 2021-10-12 at 08.38.58

Sugiati, S.Si., M.M
Manager KI SDIT Buahati Islamic School 1

Pada awal tahun 2020, dunia dikejutkan dengan munculnya satu penyakit menular yang bermula ditemukan di Wuhan, China. Penyakit menular ini disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau biasa disebut dengan nama virus corona. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian. Sejak ditemukan virus ini telah menyebar secara luas hingga mengakibatkan pandemi global yang berlangsung hingga saat ini.

Pandemi global menyebabkan sejumlah negara menerapkan lock down (karantina wilayah) untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Indonesia memilih menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dibandingkan karantina wilayah untuk menekan laju penyebaran virus corona yang semakin masif ini. Karantina wilayah tidak menjadi pilihan karena dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru ke depannya. Konsekuensi dari kebijakan PSBB ini adalah semua kegiatan yang dilakukan di luar rumah harus dihentikan sampai pandemi ini mereda. Dalam perkembangannya pemerintah menerapkan berbagai kebijakan untuk membatasi pergerakan masyarakat. Kebijakan ini telah berganti nama dan format beberapa kali mulai dari PSBB, PSBB transisi, PPKM darurat, hingga PPKM empat level.

Keputusan pemerintah untuk memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hingga PPKM empat level sebagai akibat antisipasi penyebaran virus covid-19 ternyata berdampak luas dalam kehidupan masyarakat umum dan sektor-sektor penting di Indonesia. Salah satu yang mengalami dampak cukup signifikan adalah dunia pendidikan. Kebijakan PSBB dalam dunia Pendidikan yaitu dengan menutup sekolah-sekolah mulai dari sekolah usia dini, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan juga universitas-universitas. Selain itu proses pembelajaran yang seharusnya dilaksanakan di sekolah terpaksa harus dilakukan di rumah secara daring (dalam jaringan) atau online. Akibatnya para guru mengalami “kekagetan” dan “kebingungan” untuk memberikan materi pelajaran

Penerapan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) merupakan salah satu program pembelajaran yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sistem pembelajaran daring (dalam jaringan) merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara guru dan siswa tetapi dilakukan melalui online yang menggunakan jaringan internet. Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat personal computer (PC) atau laptop yang terhubung dengan koneksi jaringan internet. Guru dapat melakukan pembelajaran bersama diwaktu yang sama menggunakan grup di media sosial seperti WhatsApp (WA), telegram, instagram, aplikasi zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran. Dengan demikian, guru dapat memastikan siswa mengikuti pembelajaran dalam waktu yang bersamaan, meskipun di tempat yang berbeda.

Dalam pembelajaran daring, guru memiliki tantangan untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif, cerdas (smart teaching), dan menyenangkan (joyfull learning). Seorang guru harus memperhatikan konteks peserta didik, sarana dan prasarana pendukung, serta tuntutan kurikulum sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Selain itu, strategi pembelajaran daring yang baik perlu mengupayakan hal-hal seperti cermat dalam memilih metode dan media, melibatkan siswa untuk mengalami dalam memahami konsep, mempertimbangkan kuota, dan menciptakan pembelajaran kolaboratif. Guru harus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, meskipun siswa berada di rumah. Desain media pembelajaran yang inovatif dengan memanfaatkan media daring (online) menjadi salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru di masa pandemi ini.

Namun, penggunaan teknologi bukan tanpa masalah. Banyak kendala yang dihadapi sehingga menghambat terlaksananya pembelajaran yang efektif dengan metode daring. Berbagai tantangan dihadapi guru di era pandemi ini.  Tantangan pertama adalah keterbatasan penguasaan teknologi informasi oleh guru. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) adalah program pembelajaran berbasis lembaga yang peserta didik dan instrukturnya berada di lokasi terpisah sehingga memerlukan sistem telekomunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya dengan berbagai sumber daya yang diperlukan di dalamnya. Sistem PJJ pada masa pandemi Covid-19 saat inipun tidaklah mudah. Selain persoalan dukungan sarana dan prasarana yang belum memadai, banyak guru yang masih gagap teknologi alias gaptek. Tidak seluruh guru di Indonesia faham penggunaan teknologi. Banyak guru-guru yang lahir tahun 70-an tidak menguasai penggunaan teknologi. Guru terkendala dalam penggunaan teknologi seperti pengoperasian sarana pembelajaran secara online. Kendala dalam teknologi informasi ini membatasi para guru dalam menggunakan media daring. Kegiatan belajar mengajar terhambat dan tujuan pembelajaran tidak mencapai sasaran seperti yang diharapkan. Selain itu, metode belajar menjadi poin penting dari sistem pembelajaran jarak jauh. Guru harus menemukan cara agar materi yang disampaikan tetap bisa diserap siswa walau tanpa bertatap muka. Hal ini juga menjadi salah satu tantangan yang dialami oleh sebagian guru. Saat ini masih banyak guru yang memberikan materi pembelajaran via whatsapp grup saja tanpa menjelaskan. Namun, ada juga sekolah yang cepat merespon adanya perubahan desain pembelajaran dari konvensional di kelas menjadi desain pembelajaran secara daring. Sekolah menjadikan PJJ ini sebagai sebuah tantangan yang dapat memberikan dampak positif dalam menciptakan sistem pembelajaran yang menarik, kreatif serta inovatif.

Tantangan kedua, Sarana dan prasarana yang masih kurang memadai karena minimnya persiapan. Pandemi global yang datang tiba-tiba telah mengubah cara belajar siswa. Sebelum adanya wabah virus corona, siswa belajar tatap muka di sekolah. Guru secara langsung menjelaskan materi pembelajaran di kelas. Namun, saat ini siswa belajar secara daring. Cara belajar seperti ini membutuhkan perangkat tambahan yang tidak hanya harus dimiliki oleh guru melainkan juga siswa. Perangkat tambahan yang berbasis teknologi tersebut tentu bukan harga yang murah. Masih banyak guru-guru dan siswa yang hidup dengan kondisi ekonomi yang mengkhawatirkan. Kesejahteraan guru dan siswa membatasi mereka untuk bisa melaksanakan kegiatan daring dengan efektif dan kreatif. Salah satu kendala dalam PJJ pada masa pandemi Covid-19 ini adalah beban pembelian kuota internet. Pembelajaran daring membutuhkan kuota internet yang cukup besar dan ini sangat membebani guru dan siswa. Terlebih lagi pada masa pandemi Covid-19 ini juga berdampak besar bagi sendi-sendi kehidupan termasuk ekonomi. Bayangkan saja keluarga yang terkena PHK, tentunya akan merasakan kesulitan ekonomi. Ditambah lagi anak-anaknya yang sekolah harus mengikuti pembelajaran daring dengan biaya pembelian kuota yang cukup mahal. Jangankan untuk membeli kuota, bisa membeli beras dan kebutuhan sehari-hari saja sudah sangat bersyukur. Dengan adanya hambatan dalam hal kebutuhan kuota internet tersebut, maka berbagai pihak baik organisasi profesi guru, pengamat pendidikan, politikus, dan berbagai elemen lainnya mendesak agar pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan terobosan agar bisa menyediakan kuota internet gratis untuk menunjang pembelajaran daring selama PJJ berlangsung.

Tantangan ketiga, guru harus mampu menampilkan pembelajaran yang terencana dan efektif dengan keterbatasan waktu yang ada. Meskipun dalam kondisi pandemi, guru perlu mempersiapkan RPP yang berkualitas serta mengatur prosedur aktivitas pembelajaran secara detail. Guru dan siswa dapat menetapkan tujuan pembelajaran sesuai ketersediaan waktu serta memilih materi yang akan disampaikan dengan langkah-langkah pembelajaran yang tepat. Guru dituntut harus mampu mengelola alokasi waktu pembelajaran dengan baik. Pembelajaran yang berkualitas tentunya berkaitan dengan bagaimana kesiapan guru dalam menentukan strategi pembelajaran yang tepat di saat pandemi. Namun, masih banyak guru yang mengalami kesulitan dalam penyusunan RPP serta bahan ajar. Adapun kesulitannya, di antaranya sebagai berikut 1) Guru belum pernah mengikuti pelatihan penyusunan RPP untuk pembelajaran daring sehingga guru merasa kesulitan merancang kegiatan pembelajaran secara daring. 2) Guru kesulitan bagaimana cara penilaian kegiatan pembelajaran secara daring. 3) Guru kesulitan mencari rujukan utama untuk merancang RPP pembelajaran secara daring. 4) Guru juga masih kesulitan menentukan strategi pembelajaran secara daring. 5) Guru kesulitan menyiapkan bahan ajar daring Apakah bahan ajar tersebut sama dengan yang digunakan di kelas. Berbagai kesulitan yang dihadapi guru-guru dalam penyusunan RPP menjadi sebuah tantangan bagi guru-guru. Seorang guru harus mampu dalam merencanakan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran yang bermakna dan mempersiapkan penyusunan RPP dan bahan ajar di tengah masa pandemi ini.

 Tantangan keempat, bagaimana guru mampu menjadi motivator, fasilitator, mediator, dan komunikator. Ini hanya bisa dilakukan oleh guru yang memiliki visi jelas dalam pembelajaran dan mampu menjalin interaksi yang kuat dengan siswa. Keberhasilan siswa dalam belajar merupakan tujuan utama dari peran guru dalam mengajar. Guru harus bisa melakukan perannya sebagai motivator, fasilitator, mediator, dan komunikator. Motivasi adalah sesuatu hal yang amat diperlukan dan tidak bisa dipisahkan dalam dunia pendidikan. Salah satu keberhasilan seorang anak dalam belajar karena adanya motivasi.  Pada masa pandemi covid-19 ini motivasi guru kepada siswa sangat diperlukan supaya mereka tetap semangat untuk belajar walaupun belajar dari rumah. Guru wajib memberikan nasehat-nasehat positif kepada siswa dan memberikan penguatan kepada siswa agar mereka tidak khawatir dengan adanya pandemi covid-19 ini. Guru juga wajib mendorong siswa untuk senantiasa bersemangat dalam melakukan aktivitas pembelajaran. Supaya belajar anak senantiasa sukses pada masa pandemi, maka guru harus memfasilitasi siswa dapat senantiasa belajar dengan aman serta nyaman, bukan dengan hanya memberikan tugas yang memberatkan siswa dalam belajar. Tugas guru tidak hanya memberikan informasi kepada siswa namun wajib menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar kepada seluruh siswa supaya mereka bisa belajar dalam suasana yang gembira, tidak takut, penuh semangat, dan berani mengungkapkan pendapatnya. Hal ini adalah modal dasar siswa untuk berkembang serta tumbuh menjadi manusia yang bisa menyesuaikan diri dan mampu memasuki era globalisasi yang penuh tantangan ini. Guru wajib mempersiapkan diri dalam kondisi apapun termasuk dalam kondisi pandemi pandemi saat ini. Bila terdapat siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran online maka guru wajib memfasilitasi pembelajaran online tersebut. Bila siswa tidak dapat online, maka guru dapat mendatangi siswa ke rumah ataupun kebalikannya siswa yang datang ke rumah guru. Sebagai mediator guru harus mempunyai pemahaman dan juga pengetahuan tentang media pendidikan. Seorang komunikator pembelajaran, pada saat normal guru melakukan persiapan terkait dengan materi yang disampaikan, membangun kredibilitas, mengenali karakter siswa dan memahami teknik-teknik retorika. Pada saat New Normal, guru perlu mengetahui dan memahami jenis-jenis teknologi informasi berbasis internet, cara pengambilan gambar yang menarik, penggunaan bahasa yang padat dan berisi, mengenali karakter siswa, penggunaan aplikasi internet yang familiar, dan persiapan alat teknologi sebagai basis penyampaian materi. Sebagai komunikator, pada saat normal guru dapat secara langsung menyampaikan materi pada  siswa, bahkan tanpa persiapan sekalipun. Pada saat New Normal, guru harus mempersiapkan materi dan teknologi internet sebagai media penyampaian pesan.

Tantangan kelima, guru harus mampu menyampaikan “pesan” kepada siswa agar menjadi anak yang “tangguh”. Siswa tangguh artinya siswa yang mampu bertahan dan menyesuaikan diri ketika segala sesuatunya berjalan serba sulit atau tidak menyenangkan. Sudah banyak siswa yang lingkungan dan keluarganya terpapar covid-19 bahkan ada yang harus kehilangan anggota keluarganya tersebut. Misalnya ayah atau ibunya meninggal. Tentu hal ini sangat mempengaruhi mental siswa yang akhirnya berdampak juga kepada pembelajaran siswa. Di sisi lain ada siswa yang mengalami keadaan  serba-terbatas dalam berkomunikasi, berinteraksi, dan berkreasi. Namun, mereka harus mampu beradaptasi dengan hal-hal baru. Di samping peran orang tua siswa, guru juga memiliki peran strategis untuk membuat tangguh siswa dengan berusaha memotivasi mereka untuk disiplin belajar, semangat dalam melaksanakan tugas, aktif dalam kegiatan pembelajaran. Tentu hal ini bukanlah hal yang mudah apalagi jika ada keterbatasan dalam hal komunikasi antara guru dan siswa. Ini menjadi tantangan bagi guru-guru bagaimana membuat para siswa tangguh di tengah-tengah pandemi covid-19.

            Tantangan keenam, guru harus mampu berkolaborasi dengan orang tua dalam membentuk karakter siswa. Kepribadian positif wajib dimiliki seorang guru karena para guru harus bisa jadi teladan bagi para siswanya. Selain itu, guru juga harus mampu mendidik para siswanya supaya memiliki karakter yang baik. Ketika pendidikan harus menerapkan pembelajaran jarak jauh, ketika siswa harus belajar dari rumah, ketika guru harus mengajar dari rumah, maka siapa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan karakter siswa? Salah satu ajaran yang terkenal dari sang bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara adalah “ Setiap orang menjadi guru setiap rumah menjadi sekolah.” Mengintegrasikan ajaran beliau dengan tujuan kurikulum 2013, maka setidaknya kita dapat mengambil dua pelajaran. Pertama bahwa setiap anggota keluarga yang lebih dewasa harus dapat mengajarkan sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Kedua bahwa setiap rumah hendaknya menjadi tempat bagi setiap anggota keluarga, khususnya anak – anak, untuk bisa memperoleh sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan untuk kehidupan yang penuh makna di masa depan. Sikap spiritual dan sosial inilah yang akan membentuk karakter siswa. Pemerolehan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang baik itu tidak selalu harus mengandalkan ruang – ruang kelas melalui guru yang secara resmi mengajar di sekolah, namun seyogyanya bisa diperoleh dari orang tua dan orang dewasa yang ada di rumah dan di sekitarnya. Pandemi covid-19 ini bisa menjadi kesempatan bagi orang tua untuk lebih dekat dengan anak dan membentuk karakternya. Guru harus mampu berkolaborasi dengan orang tua dalam hal pembentukan karakter siswa. Ini menjadi tantangan bagi guru-guru bagaimana caranya agar siswa dapat terbentuk karakternya meskipun tidak secara langsung bertemu tatap muka. Guru harus memiliki kemampuan membangun komunikasi yang baik dengan orang tua siswa dan bersama-sama membangun karakter siswa.  Sehingga meskipun pembelajaran dilakukan secara online, namun karakter positif siswa dapat terbentuk dengan baik.

Topik Berita :